Kriteria Penentuan Lokasi Lahan Produksi Garam di Indonesia

Oleh Rachmad Dian Kuncoro

Garam merupakan benda padat berwarna putih berbentuk kristal yang merupakan kumpulan senyawa dengan bagian terbesar NaCl (>80%) serta senyawa lainnya, seperti magnesium klorida, magnesium sulfat, dan kalsium klorida.

Garam merupakan komoditas penting yang banyak digunakan baik dari kepentingan konsumsi sampai dengan kepentingan industri. Garam dapat bersumber dari air laut, air danau asin, deposit dalam tanah, tambang garam, sumber air dalam tanah ataupun sungai berair payau.

Produksi garam di Indonesia umumnya dilakukan menggunakan metode evaporasi. Produksi dilakukan di musim kemarau pada lahan tanah yang berdekatan dengan sumber air bahan baku garam, baik langsung dari laut maupun dari aliran sungai atau muara sungai berair payau dimana secara umum garam diproduksi mulai dari kolam penampungan air (bozem), peminihan, dan meja kristalisasi.

Dalam perkembangannya, metode produksi garam semakin berkembang. Sebut saja ada metode ulir filter, metode rumah kaca, metode rumah tunnel, dan metode rumah prisma.

Lokasi menjadi faktor penting dalam penentuan metode produksi garam di Indonesia. Tim peneliti dari Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya menyampaikan penilaian kesesuaian suatu lokasi untuk menjadi lokasi produksi garam dikembangkan dalam bentuk Indeks Kesuaian Garam (IKG). Penyusunan IKG didasarkan pada sembilan parameter yang menentukan proses produksi garam, yaitu:

1. Curah Hujan

Curah hujan merupakan salah satu penentu keberhasilan produksi garam. Rata-rata intensitas curah hujan dan pola hujan dalam setahun merupakan indikator yang terkait erat dengan lama musim kemarau. Lama musim kemarau ini akan mempengaruhi tingkat penguapan air di lokasi produksi garam. Tingkat curah hujan yang tinggi akan berdampak negatif pada produksi garam.

2. Permeabilitas Tanah

Permeabilitas tanah merupakan parameter untuk mengukur tingkat porositas tanah yang merupakan faktor penting dalam mempengaruhi keberhasilan produksi garam. Permeabilitas tanah rendah dan tidak mudah retak adalah salah satu kriteria dalam persyaratan lokasi tambak garam.

3. Jenis Tanah

Tanah yang didominasi fraksi pasir akan mempunyai pori makro (porous), tanah dengan dominasi debu akan banyak mempunyai pori meso (agak porous), sementara tanah dengan fraksi liat akan mempunyai banyak pori mikro (kecil) atau tidak porous. Pengembangan lahan tambak garam harus didasarkan pada potensi teknis yang dimiliki wilayah pengembangan, salah satu potensi teknis tersebut adalah jenis tanah yang tidak porous untuk menjamin ketersedian air tua dan pengendapan sempurna.

4. Lama Penyinaran

Lama penyinaran matahari merupakan faktor dalam produksi garam yang juga mempengaruhi laju evaporasi air. Evaporasi air akan dapat tercapai dengan baik jika didukung oleh radiasi surya serta bantuan rekayasa iklim mikro pada areal pegaraman.

5. Kelembaban Udara

Kelembapan udara berkaitan erat dengan proses evaporasi pada produksi garam. Jika kelembapan tinggi, laju evaporasi menjadi rendah karena kejenuhan udara akan lebih cepat tercapai. Kelembapan udara mempengaruhi kecepatan penguapan air, dimana makin besar penguapan maka makin besar jumlah kristal garam yang mengendap.

6. Kecepatan Angin

Kecepatan angin sangat berpengaruh dalam penentuan lokasi tambak garam karena akan mempengaruhi kecepatan penguapan air, dimana makin besar evaporasi (penguapan) maka makin besar jumlah kristal garam yang mengendap.

7. Suhu Udara

Suhu udara mempengaruhi kecepatan penguapan air, dimana makin besar penguapan maka makin besar jumlah kristal garam yang mengendap.

8. Tingkat Penguapan

Penguapan merupakan faktor utama dalam produksi garam yang dipengaruhi oleh angin dan matahari. Proses pembuatan garam pada dasarnya adalah proses pengoptimalan proses penguapan sehingga dapat menghasilkan Kristal garam.

Faktor yang paling menentukan kecepatan penguapan air dalam proses pembuatan garam adalah kecepatan angin dan radiasi sinar matahari. Kecepatan angin berpengaruh karena angin membawa uap air dari permukaan air sehingga proses penguapan tetap dapat berlangsung. Radiasi sinar matahari berpengaruh karena merupakan sumber energi untuk proses penguapan yang terjadi.

9. Tingkat Kejenuhan Air Bahan Baku Garam

Proses pembentukan kristal garam dipengaruhi banyak faktor termasuk tingkat kejenuhan air bahan baku garam. Tingkat kejenuhan ini akan menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi garam.

Nilai IKG ditentukan dengan melakukan skoring pada sembilan indikator kesesuaian lokasi produksi garam tersebut. Adapun kriteria kesesuaian berdasarkan skor IKG adalah sebagaimana berikut:

85 % : Sangat sesuai (S1)
80-84 % : Cukup Sesuai (S2)
75-79 % : Sesuai bersyarat (S3)
<75 % : Tidak sesuai (N)

IKG berhubungan dengan kesesuaian lokasi produksi garam menggunakan metode produksi di lahan (evaporasi). Lokasi yang sesuai dengan metode evaporasi adalah S1 dan S2. Untuk produksi garam pada lokasi dengan kriteria S3 dan N, perlu ada cara lain dalam produksi lahan, seperti penambahan rumah prisma atau rumah tunel.

Gambar 1. Metode Rumah Tunnel
Gambar 2. Metode Evaporasi
Gambar 3. Metode Prisma

Artikel ini sudah tayang di : https://kkp.go.id/djprl/jaskel/artikel/17505-kriteria-penentuan-lokasi-lahan-produksi-garam-di-indonesia

By Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *