Pengaplikasian Teknologi Iradiasi Alternatif Dorong Kualitas Produk Kelautan dan Perikanan LIN

Pewarta : Nurul Ikhsan | Editor : Heri Taufik

Maritimbisnis.com – Peningkatan produksi, produktivitas, standarisasi, dan mutu produk kelautan dan perikanan terus dikejar untuk mendukung program Lumbung Ikan Nasional (LIN) sesuai dengan arahan RPJMN 2020-2024.

Selain kuantitas, kualitas dari produk juga ingin ditingkatkan agar mampu bersaing dengan produk sektor kelautan dan perikanan lainnya pada komoditas ekspor. Untuk itu Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim terus berusaha mendorong kualitas dari produk kelautan dan perikanan melalui salah satu cara pengawetan yang disebut iradiasi.

Asisten Deputi (Asdep) Peningkatan Daya Saing Dedy Miharja yang menjadi pemimpin rapat dalam rapat koordinasi (rakor) ini, membuka rakor dengan urgensi dari penggunaan teknologi iradiasi sebagai salah satu alternatif peningkatan kualitas di sektor kelautan dan perikanan.

“Produk kelautan dan perikanan serta hasil olahannya yang telah diradiasi, dari segi kualitas atau mutu dan keamanan pangan akan terjaga serta bebas dari bakteri-bakteri yang menjadi persyaratan dari negara importir atau tujuan ekspor Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Asdep Dedy, (09/04/2021).

Penggunaan teknologi iradiasi menjadi salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk meningkatkan pencapaian target ekspor sebesar 8,2 miliar dollar AS dan peningkatan konsumsi masyarakat Indonesia menjadi 60,9 kilogram per kapita  pada tahun 2024 sesuai dengan Peraturan Presiden (PP) Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024. Pengaplikasiannya akan dimulai melalui program LIN. Hasil olahan dari program LIN akan diradiasi untuk menjaga kualitas produk saat di ekspor ke negara tujuan. Dengan ini, penolakan produk asal Indonesia di sektor kelautan dan perikanan oleh importir akan berkurang.  

Perlu diketahui, bahwa potensi penyebab teknis kasus penolakan produk  kelautan dan perikanan serta hasil olahannya oleh negara tujuan ekspor antara lain mengandung logam berat (merkuri, timbal, kadmium), bakteri salmonella, mikrobiologi, histamine, kontrol suhu yang buruk, terjadinya pembusukan pada produk, produk terkena kotoran, dan bahan tambahan pangan. 

“Kita sudah pernah memiliki rekam jejak yang buruk saat produk kita ditolak oleh beberapa negara antara lain seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Amerika, karena ditemukan paparan virus Covid-19 saat ini sudah terjadi 16 kasus maupun bakteri salmonella, kita tidak mau lagi hal seperti ini terjadi lagi terutama untuk produk kelautan dan perikanan yang nantinya berasal dari LIN,” kata Asdep Dedy. 

Iradiasi atau secara khusus iradiasi pangan, merupakan metode penyinaran terhadap sebuah produk pangan dengan menggunakan zat radioaktif. Tujuan dari penyinaran ini adalah untuk mencegah terjadinya pembusukan dan kerusakan pangan, serta membebaskan pangan dari jasad renik patogen. Oleh karena itu, teknologi iradiasi ini sangat cocok bagi produk kelautan dan perikanan yang memiliki potensi terkena paparan zat luar yang mampu merusak produk seperti perikanan tangkap dan budidaya ataupun produk hasil olahan lainnya. 

Terkait masalah keamanan dari teknologi ini, sudah ada berbagai kajian dan juga sudah adanya sertifikasi Codex Standard for Irradiated (CODEX) di Indonesia yang menunjukkan keamanan dari penggunaan teknologi iradiasi. 

“Ketakutannya adalah saat sebuah produk dilakukan iradiasi, maka produk itu menjadi produk yang mengandung zat radioaktif. Ini jelas tidak benar, karena sudah ada peraturan yang tertera dalam CODEX terkait seberapa besar radiasi yang diperlukan untuk sebuah produk tertentu, dalam hal ini produk kelautan dan perikanan,” papar perwakilan dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Untuk produk ikan kering dosis yang digunakan adalah kurang dari 3 grey atau kGy (satuan dari radiasi). Kemudian untuk 3 sampai 5 kGy bisa digunakan untuk produk perikanan beku. Dengan teknologi ini, iradiasi punya peluang sangat baik dalam meningkatkan perolehan devisa dari komoditas perikanan, khususnya bagi LIN.

Diharapkan nantinya kawasan LIN memiliki fasilitas iradiasi ini yang mampu menjadi alternatif solusi peningkatan kualitas  produk perikanan Indonesia yang akan diekspor dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) titik 714, 715, dan 718 di area Provinsi Maluku dan Maluku Utara.

Hadir dalam rapat koordinasi tersebut Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN, perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Perwakilan Asisten  Deputi Hilirisasi Sumber Daya Maritim, dan pelaku usaha PT. Starfood International, Lamongan Jawa Timur, serta PT. Bumi Bangun Bersama. ***

By Nurul Ikhsan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Menarik Lainnya